Rabu, 31 Maret 2010

Tiga Pelajaran Dari Satu Pengajian

Minggu, jam delapan pagi. Semestinya acara tabligh akbar sudah dimulai karena jadwal yang tertulis di spanduk besar bergambar seorang da’i kondang, acaranya dimulai tepat pukul tujuh pagi. Namun, sama sepertiku, sebagian besar jama'ah berpikiran bahwa tak mungkin acara dimulai tepat waktu, sehingga tak perlu tergesa-gesa ataupun takut ketinggalan acara, meskipun sudah terlambat satu jam lamanya. Dan sama juga seperti panitia yang tak kunjung memulai acara meski hari semakin siang dan hampir tak ada lagi jama'ah yang baru datang.

Pukul setengah sepuluh, rangkaian acara tabligh akbar baru dimulai. Diawali dengan pembukaan, dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Acara berikutnya adalah penampilan grup rebana dari jama'ah pengajian setempat, dan seterusnya diisi dengan sambutan dari ketua DKM dan ketua panitia. Pukul sepuluh, semua acara pembuka sudah selesai, tinggal masuk ke acara inti, yaitu tauziah yang akan disampaikan oleh sang da’i. Namun sampai ketua panitia selesai memberikan sambutan, sang da’i belum juga datang. Pembawa acara memohon kepada jama'ah agar bersabar, sebab sang da’i sedang dalam perjalanan. Sambil menunggu sang da’i datang, pihak panitia kembali meminta grup rebana untuk mengisi acara dengan senandung shalawatnya. Lebih dari lima lagu, sang da’i belum juga datang dan sang pembawa acara lagi-lagi meminta jama'ah untuk sabar karena sang da’i sedang dalam perjalanan.

Menjelang jam sebelas, pembawa acara kembali memberitahukan bahwa rombongan da’i sudah datang, namun harus singgah dulu di salah satu rumah panitia untuk beristirahat sebentar. Tiga buah lagu kembali disuguhkan untuk mengisi waktu sekaligus menenangkan jama'ah yang sudah mulai tak sabar karena lama menunggu di bawah tenda yang semakin panas.

Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sebelum sang da’i menyampaikan tauziahnya, kembali pembawa acara menyampaikan beberapa patah kata. Barangkali sekedar memberitahukan bahwa sang da’i sudah siap untuk memberikan tauziahnya, begitu pikir para jama'ah. Namun yang terjadi bukan itu. Dengan singkat, sang pembawa acara memberitahukan bahwa sang da’i berhalangan hadir karena sakit. Dan sebagai gantinya, sang da’i mengutus sahabatnya yang juga seorang da’i untuk memberikan tauziah siang itu. Pengumuman yang sama sekali tak disangka oleh jama'ah ini disambut dengan suara riuh, bahkan sebagian dari jama'ah akhirnya memilih bubar, tak lagi peduli dengan da’i yang baru saja naik ke atas panggung. Jama'ah kecewa, merasa dibohongi.

***

Minimal ada tiga pelajaran yang kupetik dari mengikuti pengajian siang itu. Tiga hal yang sering kita jumpai dan harus segera dibenahi, yaitu soal waktu, niat, dan kejujuran.

Waktu. Wal Ashr, demi masa/waktu. Sering kita mendengar ayat ini dalam berbagai kesempatan, namun sayangnya pemahaman kita sering hanya berhenti di artinya saja. Kita sering tidak disiplin dengan waktu, menganggap bahwa kita masih memiliki banyak waktu seolah kitalah yang mengatur dan menentukannya. Aku dan sebagian besar jama'ah yang datang terlambat, juga pihak panitia yang tak menepati susunan acara yang dibuatnya sendiri, atau bahkan mungkin sang da’i yang juga datang tidak tepat waktu adalah bukti bahwa kita masih belum bisa menghargai dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Semestinya aku dan seluruh jama'ah sudah berada di lokasi sebelum jam tujuh pagi, sesuai dengan jadwal acara yang ditentukan panitia. Atau semestinya panitia tidak menganggap bahwa jama'ah pasti akan datang terlambat, sehingga di spanduk mereka tulis acara akan dimulai pukul tujuh, meskipun mereka tahu sebenarnya acara baru akan dimulai pukul sembilan. Seandainya aku tahu acara akan dimulai sesiang itu, tak mungkin aku meninggalkan pengajian rutinku hanya untuk duduk menunggu. Ah, sesal memang tak pernah di awal.

Niat. Apapun yang kita lakukan, nilainya tak bisa dipisahkan dari niat ketika akan melakukannya. Kita mengikuti sebuah pengajian semestinya bukan semata karena melihat siapa yang akan memberikan tauziah, tapi lebih kepada apa yang disampaikan, sehingga bisa dijadikan pelajaran bagi kita. Jama'ah yang memilih bubar ketika mengetahui sang da’i yang mereka idolakan tak bisa datang adalah bukti bahwa niat mereka mendatangi pengajian ini masihlah karena figur sang da’i, bukan karena ingin mengaji. Aku memahami kekecewaan mereka, namun aku menyayangkan keputusan mereka. Sayang sekali, setelah sekian lama menunggu, tiba-tiba kita pulang dengan tak sedikit pun ilmu yang kita dapatkan. Bahkan duduknya kita di majelis ilmu tak menjadi ibadah karena niat kita yang salah.

Kejujuran. Sampaikanlah kebenaran meskipun itu terasa berat dan pahit. Begitu kita sering mendengar ungkapan, bahkan kita sendiri sering mengucapkan. Pemberitahuan secara mendadak yang disampaikan pihak panitia, menurutku adalah salah satu ketidakjujuran mereka. Aku memang tidak sepenuhnya yakin dengan pendapat beberapa jama'ah di sekitarku yang mengatakan bahwa semua ini hanya rekayasa panitia dengan ‘berpura-pura’ mengundang sang da’i untuk menarik minat jama'ah. Atau pendapat jama'ah lainnya yang mengatakan bahwa sang da’i berpura-pura sakit untuk menutupi keengganannya hadir di majelis yang hanya dihadiri orang-orang tak penting dan juga imbalan yang kecil. Astaghfirullah, aku tak berpikir sejauh itu, bagaimana pun kita (termasuk panitia) hanyalah bisa berencana, tapi Allah-lah yang menentukan akhirnya.

Namun, aku juga menyayangkan pihak panitia yang tidak berterus terang dari awal. Hampir tidak mungkin pihak panitia tidak tahu jika sang da’i berhalangan hadir (jika memang benar begitu adanya). Terlalu banyak teknologi komunikasi untuk sekedar memastikan bahwa sang da’i bisa datang atau perjalanan sudah sampai di mana. Kenyataannya yang ada adalah, setelah jama'ah menunggu lebih dari tiga jam, saat rombongan da’i datang, pembawa acara masih menyebut-nyebut nama sang da’i. Baru setelah sampai pada acara inti, panitia mengabarkan bahwa sang da’i tidak bisa hadir karena sedang sakit. Tak mudah bagi jama'ah menerima berita ini secara tiba-tiba. Aku sendiri menyayangkan, mengapa kabar ini tidak disampaikan sejak awal. Kalaupun panitia berpikiran bahwa jika ini diberitahukan, maka jama'ah akan kecewa dan memilih pulang, itu tidak bisa dipastikan. Kenyataannya, pemberitahuan mendadak justru membuat sebagian jama'ah meresa sangat kecewa dan merasa dibohongi.

***

Beberapa menit menjelang adzan dzuhur, acara tabligh akbar ini pun berakhir. Tak lebih dari satu jam sang da’i pengganti memberikan tauziahnya kepada jama'ah yang sudah menunggu lebih dari empat jam. Dan, lagi-lagi sebagian jama'ah merasa kecewa. Ah, ternyata masih banyak yang harus segera dibenahi lagi.



This article was originally published in blog: Tiga Pelajaran Dari Satu Pengajian started by nurudin
Baca Selengkapnya...

Fokuslah Pada Tujuan Kita

Suasana hati Ari sedang sumringah. Ia sedang menjalani hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan swasta asing yang cukup ternama. Kantornya terletak di sebuah gedung tinggi di daerah Sudirman.

Ari berfikir bahwa ia akan cukup betah bekerja di perusahaan barunya. Karena ia mendapat fasilitas yang menyenangkan.

Setelah karyawan bagian Technical Support menginstall dan mempersiapkan komputer yang akan dipakainya bekerja, ia langsung mencoba apakah komputernya terhubung dengan internet. Dan ternyata terhubung. Ia mencoba membuka situs http://andaleh.blogsome.com dan segera tampil dengan cepat.

Kemudian ia mencoba situs yang sering diblock oleh administrator perusahaan lain: facebook dan jejaring sosial lainnya. Surprise… rupanya situs-situs jejaring sosial itu tidak diblock. Ia bisa sesukanya bekerja sambil mengakses situs-situs di dunia maya.

Fasilitas itu lumayan berguna baginya. Ia bekerja sebagai programmer. Kalau ada masalah dengan pekerjaannya, ia terbiasa mencari solusinya dengan jalan bertanya kepada google.

Selanjutnya ia mencoba fasilitas lain: telepon. Rupanya ia bisa menelpon nomor lokal maupun interlokal dengan telepon yang ada di mejanya.

Ari merasa bahagia diterima bekerja di perusahaan barunya.

Sebulan kemudian, kinerja Ari dievaluasi. Ternyata performa Ari di bawah yang diharapkan oleh atasannya. Beberapa tugas terbengkalai tidak terselesaikan. Ada tugas yang selesai, itu pun kwalitasnya jauh dari standard.

Setelah atasannya meneliti mengapa kinerjanya tidak sesuai dengan yang diharapkan, rupanya fasilitas internet lah yang membuat Ari lalai. Waktu Ari bekerja lebih banyak terisi oleh browsing dan chatting. Ari terlalu sibuk dengan jejaring sosialnya daripada pekerjaannya. Akhirnya atasan Ari meminta kepada Administrator untuk memblokir situs-situs jejaring sosial khusus untuk Ari.

Setelah situs-situs jejaring sosial diblok, Ari malah makin tidak konsentrasi kerjanya. Ia mulai merasa tidak betah dan menilai bosnya tidak adil.

Tidak cuma itu, rupanya pemakaian telepon Ari pun mulai dibatasi. Karena Ari kelewat batas menggunakan telepon.

Akhirnya Ari semakin uring-uringan. Tidak kerasan bekerja di tempat barunya. Dan ia pun mulai berburu lowongan kerja.

*****

Gambaran Ari adalah gambaran umat manusia.

Tugas utama manusia dihidupkan adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS Adz-Dzariat : 56) Kemudian manusia mendapat banyak sekali fasilitas yang menunjang tujuan hidupnya.

Manusia diberi mata untuk memandang, agar ia bersyukur kepada Allah swt. Ia bisa melihat keindahan ciptaan-Nya dan semakin mengenal-Nya. Manusia diberi pendengaran, akal, hati, dan semua potensi yang ada padanya agar manusia bersyukur. Semua itu untuk penunjang manusia beribadah kepada Allah swt.

"Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati." (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur." (QS Al-Mulk : 23)

Tapi yang terjadi malahan manusia gagal menggunakannya dalam rangka beribadah kepada Allah swt. Kebanyakan manusia menggunakan kenikmatan yang didapatkannya untuk berbuat maksiat kepada Allah swt. Minimal, manusia dilalaikan oleh fasilitas-fasilitas duniawi.

Dan ketika kenikmatan itu ada yang dicabut, banyak manusia yang malah makin durhaka kepada Allah swt daripada introspeksi diri dan memperbaiki kinerja ibadahnya. Manusia mengira Allah tidak adil dan kejam karena kenikmatannya itu dicabut. "Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku"" (QS 89 : 16)

*****

Manusia yang akan sukses menyelesaikan misinya di bumi adalah manusia yang fokus pada tujuan hidupnya. Bukan manusia yang terlena oleh banyaknya fasilitas yang ia dapatkan di bumi ini.

Ada banyak pelatihan-pelatihan sholat khusyu’. Berbagai metode terapi diajarkan dan berbagai cara dikembangkan untuk menggapai sholat khusyu’. Padahal Allah swt telah memberikan satu petunjuk sederhana untuk khusyu’.

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS 2:45-46)

Orang-orang yang yakin akan menemui Tuhannya adalah orang-orang yang fokus akan tujuan hidupnya. Ia mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk pertemuan dengan Allah Rabbul Izzati.

Ada pun orang yang tidak fokus pada pertemuan dengan Tuhannya, maka percuma saja ia mengikuti pelatihan sholat khusyu’ sebanyak apa pun. Kalau fasilitas-fasilitas hidup menjadi noktah dalam pandangannya, maka ia tidak akan sempurna menatap masa depan pertemuannya dengan Tuhan. Hanya orang yang tidak terganggu dengan fasilitas hidup, yang fokus pada tujuan hidupnya, yang fokus pada pertemuan dengan Tuhannya, mereka itu lah yang akan mampu khusyu’ dalam sholatnya.
Baca Selengkapnya...

REJEKI ITU DATANG

Banyak manusia merasa khawatir dalam mencari rezeki karunia Allah SWT. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela menggadai diri dan menghinakan martabat.

Kondisi dunia modern yang sarat persaingan dan pergulatan menuntut mereka untuk lebih berjibaku dalam mencari nafkah berupa karunia Tuhan. Betapa banyak setiap pagi di belahan bumi manapun di dapati wajah-wajah penuh ketegangan dan kepanikan yang memancarkan rona khawatir dalam mengais rezeki di pagi hari.

Seolah, mereka tidak memiliki Tuhan yang Maha Kaya Yang Mampu menjamin rezeki setiap hambaNya. Dialah Allah, Ar Razzaq Sang Pemberi Rezeki.

Hal yang sering luput dari diri manusia zaman modern ini adalah keimanan dan keyakinan bahwa Allah SWT telah menjamin rezeki dan nafkah setiap hambaNya. Karena keyakinan ini semakin memudar, maka setiap individu bergulat dan berkutat dalam kehidupan dunia demi memenuhi kebutuhan hidup belaka.

Dalam kitab Mirqaat al Mafatiih, terdapat kutipan pernyataan Al Qusyairi yang mengatakan; “Seseorang yang mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pemberi Rezeki, berarti ia telah menyandarkan tujuan kepadaNya dan mendekatkan diri dengan terus bertawakal kepadaNya.”

Pernyataan Al Qusyairi ini penting untuk diyakini bahwa memang kunci mendapatkan rezeki adalah dengan mendatangi Sang Pemilik rezeki yaitu Ar Razzaq! Sebab dengan mendatanginya maka segala hal kebutuhan akan terpenuhi.

Apakah kita belum pernah mendengar hadits yang amat masyhur ini: “Hai manusia, jika dari generasi pertama sampai terakhir, baik jin dan manusia berkumpul dalam satu tempat untuk meminta kepadaKu, lalu masing-masing orang meminta untuk tidak mengurangi kebutuhannya, niscaya hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun dari kekuasaanKu, kecuali hanya seperti jarum yang dicelupkan di laut.” (HR. Muslim).

Ini semua bukanlah demi menafikan sebuah ikhtiar mencari nafkah atau bekerja. Tetap saja bekerja sebuah prasyarat mulia untuk mendapatkan nafkah, dan para Nabi; manusia terhormatpun tetap melakukannya.

Namun tekanan yang terpenting dalam mencari rezeki dan nafkah adalah ketaatan kepada Allah Sang Pemberi rezeki.

Dalam Kitab Shahih Al Jami’ disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang berbunyi: “Sesungguhnya malaikat Jibril menghembuskan ke dalam hatiku bahwasanya jiwa hanya akan mati sampai tiba masanya dan memperoleh rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah, carilah nafkah yang baik, jangan bermalas-malasan dalam mencari rezeki, terlebih mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan memberikan apa yang dicarinya kecuali dengan taat kepadaNya.”

Sebab itu, usahlah panik dalam mencari karunia Allah SWT berupa rezeki. Yakinilah bahwa rezeki itu datang, bahkan kedatangannya menghampiri diri kita begitu cepat.

“Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seseorang dan bergerak lebih cepat daripada ajalnya.” (HR. Thabrani)

Semoga Allah memberkahi rezeki & hidup kita bersama. Amien
Baca Selengkapnya...

Jumat, 26 Maret 2010

IDEALNYA SEORANG PEMUDA

IDEALNYA SEORANG PEMUDA



Ia pribadi yang muslim, berhati emas, berpotensi prima.


Yang dikala damai anggun, bak kijang dipadang perburuan.

Yang dikala perang perkasa bak harimau kumbang.

ia perpaduan manisnya empedu.

Satu kali kawan, lain kali dengan lawan.

Yang lembut dalam berbahasa, yang teguh membawa suluh.

Angannya sederhana, citanya mulia.

Tinggi vitalitasnya dalam was2, tinggi budi, rendah hati.



Ialah sutra halus ditengah sahabat tulus.

Ialah baja, di tentangnya musuh durhaka.

Ia ibarat gerimis atau embun tiris,

yang menberkan bunga2, yang melambaikan tangkai2.

Ia juga topan beliung,

Yang melemparkan laut ke relung2

Ia juga penumbang segala belantara, segala sahara.



Ialah pertautan agung Imam Abu Bakar, perkasa Ali, papa Abu Dzar, teguhnya Salman, mandirinya ditengAH massa yang bergoyang.

Ibarat lentera utama di tengah gulita sahara.

Ia pilih syahid di atas segala kursi dan upeti.



Ia menuju bintang, menggapai malaikat

Ia tentang tindak kufur, pola aniaya dimana saja.

Makanya nilainyapun membumbung tinggi, harganya makin tak terperi.

MAKA SIAPAKAH YANG AKAN SANGGUP MEMBELINYA KECUALI RABB_NYA??


http://yudimuslim.multiply.com/journal/item/24






Nb: Syukran untuk ukhti Aisyah yang sudah memberikan nasihat ini.
Baca Selengkapnya...

wali songo

"Walisongo" berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.

Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai "tabib" bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai "paus dari Timur" hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha

(Sumber: www.pesantren.net)
Baca Selengkapnya...
Pesan ini telah disampaikan oleh para ahli ilmu dan dai dai di seluruh penjuru dunia kepada pemuda pemuda kaum muslimin. Dimana pemuda adalah masa usia produktif bagi seorang manusia, yang dimasa itu adalah kejayaan bagi mereka bila mereka berkarya dengan kemampuan yang mereka punya. Mereka adalah ujung tombak dari segala bentuk perubahan, apakah perubahan itu menuju kebaikan ataukah menuju kerusakan. Kenyataan mereka pada saat ini akan menjadi fakta di masa mereka menjadi pemimpin, apakah itu pemimpin di rumah tangga atau selebihnya. Banyak hal yang seharusnya bisa mereka lakukan daripada menghabiskan waktu dengan hura-hura dan bermain. Kenapa mereka tidak menghabiskan waktu mereka dengan kitab kitab ulama daripada segala bentuk hal yang sama sekali tidak mendatangkan manfaat kecuali sangat sedikit.

Wahai pemuda pemuda muslim seharusnya kita lah yang maju pertama kali untuk menegakkan Al-Quran dan Assunnah dengan pemahaman para Sahabat

Wahai pemuda pemuda muslim seharusnya kita lah yang berada di barisan depan sholat sholat berjamaah,

Wahai pemuda pemuda muslim seharusnya kita lah yang pertama kali melangkahkan kaki untuk menghadiri kajian kajian Ilmu,

Wahai pemuda pemuda muslim, seharusnya peran kita lah yang sangat dibutuhkan untuk mendakwahkan keluarga-keluarga kita,

Wahai pemuda pemuda muslim, seharusnya semangat kita lah yang di butuhkan untuk mengembalikan kejayaan islam.

dan banyak lagi seharusnya, yang itu hanya pantas di peruntukkan bagi pemuda muslim.
Baca Selengkapnya...

Senin, 22 Maret 2010

SEPULUH RISALAH PEMUDA ISLAM

Tak dapat disangkal lagi bahwa eksistensi pemuda Islam dalam kehidupan amat penting, karena merekalah yang memiliki potensi untuk mewarnai perjalanan sejarah umat manusia pada umumnya. Semua ideologi yang berorientasi pada strategi revolusi, menganggap pemuda sebagai tenaga paling revolusioner karena secara psikologis manusia mencapai puncak hamasah (gelora semangat) dan quwwatul jasad (kekuatan fisik) pada usia muda. Hal tersebut menumbuhkan semangat pergerakan, perubahan, bukan stagnasi ataupun status quo. Dalam setiap kurun waktu, kemarin, kini dan esok, pemuda senantiasa berdiri di garis terdepan. Baik sebagai pembela kebenaran yang gigih ataupun sebagai pembela kebatilan yang canggih.
Di dalam Al Qur’an, peran pemuda diungkapkan dalam kisah Ashabul Kahfi (18:9-22), kisah pemuda Ibrahim (21:60,69 dan 2:258) dan pemuda dibunuh oleh Ashabul Uhdud (lihat tafsir Ibnu Katsir Q.S. Al Buruuj) dan para Assabiqunal Awwalun pada umumnya berusia muda.
Pentingnya memanfaatkan masa muda digambarkan dalam hadist Rasulullah SAW, sebagai berikut: “Manfaatkan yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebellum datang masa tuamu; masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu; masa kayamu sebelum datang masa miskinmu; masa hidupmu sebelum datang masa matimu; masa luangmu sebelum datang masa sibukmu.” (H.R. Al Baihaqi)

• SEPULUH RISALAH PEMUDA
1. Memahami Islam
Mustahil pemuda dapat memuliakan Islam kalau mereka sendiri tidak memahami Islam (35:28, 58:11)
“Siapa yang dikehendaki Allah akan mendapat kebaikan, maka dipandaikanlah dalam agama.” (H.R. Bukhari-Muslim)
“Dunia ini terkutuk dan segala isinya terkutuk kecuali dzikrulloh dan yang serupa itu dan orang alim dan penuntut ilmu.” (H.R. At Tirmizi)
2. Mengimani segenap ajaran Islam
Iman kepada Allah dan Rasul-Nya pada hakikatnya merupakan sebuah sikap mental patuh dan tunduk (23:51). Tunduk patuh berlandaskan cinta kepada-Nya (2:165) dan ittiba’ (mengikuti) rasul-Nya (3:31, 53:3-4).
3. Mengamalkan dan mendakwahkan Islam
Ciri orang yang tidak mengalami kerugian (khusrin) dalam hidup adalah senantiasa mengamalkan dan mendakwahkan Islam (103:1-3, 41:33, 3:110, 9:71, 5:78-79).
“barang siapa menyeru kepada kebaikan maka ia akan memperoleh pahala sepadan dengan orang yang mengerjakannya.” (H.R. Muslim)
4. Berjihad dijalan Islam
Jihad adalah salah satu hal yang diwajibkan Allah kepada kaum muslimin. Said Hawa membagi jihad menjadi lima macam :
a. Jihad Lisaani, menyampaikan dakwah Islam kepada orang-orang kafir, munafik dan fasiq yang disertai dengan hujjah (argumentasi) yang dicontohkan oleh Nabi SAW. (5:62)
b. Jihad Maali atau jihad dengan harta (49:15, 9:111). Jihad dengan harta merupakan bagian vital bagi jihad yang lainnya, karena dakwah memerlukan sarana dan prasarana.
c. Jihad Bilyad wan nafs atau jihad dengan tangan/kekuatan dan jiwa (22:39, 2:190, 8:39, 9:36). Termasuk dalam jihad ini adalah menentang orang kafir, berusaha mengusir mereka dari bumi Islam, memerangi kaum murtad dalam negeri Islam, melawan pemberontakan atau pembangkangan atas negara Islam.
d. Jihad Siyaasi atau jihad politik.
e. Jihad Tarbawi/ta’limi, yakni bersungguh-sungguh mengajarkan, menyampaikan ilmu dan mendidik orang-orang yang ingin memahami Islam (3:79)
5. Sabar dan istiqomah di atas jalan Islam (21:83-85, 38:41-44, 37:100-107, 21:68-69, 71:5-9)
Keimanan harus dilanjutkan dengan kesabaran dan istiqamah. “Keyakinan dalam iman haruslah secara bulat dan kesabaran itu setengah dari iman.” (H.R. Abu Nu’aim)
6. Mempersaudarakan manusia dalam ikatan Islam
Pemuda seharusnya berperan dalam menjalin ukhuwah islamiyah sesama muslim (8:63, 59:9). “Setiap mukmin yang satu bagi mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan, antara satu dengan yang lainnya saling mengokohkan,” (Al hadist)
7. Menggerakkan dan mengarahkan potensi umat Islam
Potensi umat Islam perlu diarahkan ke dalam amal jama’i secara efektif dan efisien (3:146)
8. Optimis terhadap masa depan Islam
Pemuda Islam tak boleh memiliki jiwa pesimis. Sebaliknya, harus optimis akan hasil perjuangan dan pertolongan serta balasan dari Allah SWT. Hanya orang kafirlah yang memiliki sifat pesimis (12:87, 15:56).
9. Introspeksi diri (muhasabah) terhadap segala aktivitas yang telah dilakukan
Introspeksi dan evaluasi dimaksudkan agar pemuda tidak mengulang kesalahan yang sama di hari mendatang, tidak terjebak dengan permasalahan yang sama dan mampu memperbaiki diri ke arah yang lebih baik (13:11).
“Seorang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap dengan amal sebagai bekal untuk mati.” (H.R. At Tirmizi)
10. Ikhlas dalam segenap pengabdian di jalan Islam
Memurnikan niat karena Allah dalam ibadah, dan jihad merupakan masalah fundamental agar amal itu diterima sekaligus sukses.
“Sesungguhnya Allah menolong umat ini hanya karena orang-orang yang lemah di antara mereka yaitu dengan dakwah, shalat dan ikhlas mereka,” (H.R. An Nasai dari Sa’ad bin Abi Waqash)
Baca Selengkapnya...